50 HEKTAR SAWAH DI GARUT TERANCAM GAGAL PANEN AKIBAT KURANG PASOKAN AIR

banner 160x600
banner 468x60
gambar padi kekurangan air

foto Sawah kekurangan air

JAKARTANEWSon- Garut, Akibat kurangnya pasokan air yang cukup yang mengairi sawah petani,sekitar 50 hektar tanaman padi berusia muda di Blok Cengkar, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat terancam gagal panen (puso). Hal ini terungkap saat media memantau pertanian di kabupaten garut, Rabu (9/9/2020).

Dari informasi yang didapatkan dilapangan, dalam sebulan terakhir akibat musim kemarau, debit air jadi berkurang. Rian Mulyana salah seorang petani di Desa Cibunar mengatakan, bahwa selama ini ia mengandalkan air hujan untuk mengairi sawahnya. Namun, sejak satu bulan lebih hujan tak kunjung turun. Walhasil, pasokan air ke sawah menjadi tidak normal.“Karena kurangnya mendapatkan pasokan air, saya khawatir tanaman padi akan mati ,” kata Rian mulyana.

“Ia juga menjelaskan, Kondisi tanaman padi kini sudah menguning dan hampir mati,” imbuhnya. Para petani berharap hujan segera turun dalam waktu dekat dan bantuan pompa dari Pemerintah Daerah (Pemda) Garut ataupun dari pemenrintah pusat dalam hal ini kementerian Pertanian segera disalurkan.

Petani di Kabupaten Garut Jawa Barat saat ini sudah mulai memasuki panen padi, tapi tidak merata panennya, ada yang masih bebrapa bulan lagi panennya dan membutuhkan pasokan air yang cukup agar bisa tumbuh dengan baik. Dengan begitu, petani tidak mengalami kerugian besar dan tanaman padi akan terhindar dari ancaman gagal panen (puso).

Ia juga berharap agar kondisi kekurangan air segera di atasi dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat, saat ini kami butuh bantuan pompa untuk menyedot air dari sungai secepatnya,” kata Rian Mulyana.

Adanya pemberitaan terjadi gagal panen yang terjadi di Kampung Rancapanjang, Desa Neglasari, Kecamatan Balubur Limbangan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ir Beni Yoga Gunasantika, melalui Kepala Seksi (Kasi) Serealia, Endang Junaedi, menyampaikan klarifikasi dan tanggapannya bahwa yang terjadi merupakan serangan hama blast pada tanaman padi tersebut.

Dikatakan Endang, sesuai pemantauan dan laporan dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian wilayah Kecamatan Limbangan, bahwa kejadian tersebut bukan gagal panen akibat benih yang jelek sebagaimana diungkapkan para petani, melainkan akibat hama Blast.

“Saya konfirmasi dengan petugas POPT, dan menyampaikan betul ada kejadian dugaan gagal panen di Kampung Rancapanjang Desa Neglasari dan sudah dibuat laporan. Namun itu kategorinya bukan gagal panen, tetapi penurunan hasil produksi dan jumlahnya tidak sampai 12 Hektare, hanya 4 Hektare saja. Lagipula yang disebut gagal panen itu bila kerugian mencapai 80 persen,” ujar Endang

Hal ini, kata Endang, dampak dari hama penyakit tanaman Blast yakni di mana hama tersebut biasa menyerang tanaman padi, ketika musim hujan turun. Apabila penyakit tersebut sudah menyerang sawah petani, tidak jarang bisa mengurangi produksi pertanian.

Selain itu juga curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya peningkatan kelembaban serta peningkatan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) terutama penyaki. Pasalnya, intensitas penyinaran turun yang akan berakibat terhadap menurunnya kualitas produksi.

“Musim hujan yang melanda Garut, menyebabkan sejumlah lahan pertanian di Desa Neglasari, Kecamatan Limbangan, terserang hama padi jenis blast. Betapa tidak dengan adanya serangan hama blast tanaman padi di wilayah tersebut rusak hingga mengancam tanaman padi gagal panen. Petugas POPT juga melaporkan, ini terjadi dibeberapa tempat dan memang ada beberapa benih yang rentan terhadap hama Blast tersebut seperti Inpari 30, sehingga menyebabkan menurunnya hasil produksi padi,” tutur Endang. (*Bhr)

 

Bagikan Artikel Ini:
banner 468x60
author
No Response

Leave a reply "50 HEKTAR SAWAH DI GARUT TERANCAM GAGAL PANEN AKIBAT KURANG PASOKAN AIR"