DITENGAH PANDEMI CORONA, PETANI BUNGA HIAS DI SUBANG, GARUT DAN BANDUNG OPTIMIS ADA PELUANG EKSPOR

banner 160x600
banner 468x60

bunga hias 3

JAKARTANEWSon- Subang, Ditngah Pandemi covid-19 atau virus Corona yang kian mengkhawatirkan beberapa waktu belakangan ini, berdampak pada semua sektor ekonomi, termasuk petani bunga di Kabupaten Subang, Garut dan Bandung Barat.

Pantauan media ke tiga lokasi di Jawa Barat, Subang, Garut dan Bandung Barat mendapatkan informas bahwa, pertanian tanaman hias di tiga daerah tersebut beberapa bulan terakhir ini agak lesu penjualannya. Namun masih optimis terus melanjutkan usaha pengembangan tanaman hias dengan mencari peluang ekspor ke mancanegara.

Mulyono salah satu petani tanaman Hias saat diwawancara media, Senin (20/7/2020) di Garut mengatakan, walaupun beberapa bulan terakhir ini penjualan tanaman hias agak lesu tapi kami optimis akan bangkit lagi dan optimis ada peluang ekspor," katanya.

Kita harus pintar-pintar mensiasati penjualan bunga hias ditengah covid corona ini. kalau pangsa pasar didalam negeri lesu, kita optimis akan melakukan ekspor dengan bantuan karantina Pertanian dan bantuan Ditjen Hortikultura Kementan," kata Mulyono dengan nada optimis.

Menurut Mulyono sebagai salah satu sentra penjual bunga dan tanaman hias di Jawa Barat bahkan di Indonesia, mengalami dampak lansung pandemi corona.Berbagai jenis bunga seperti mawar, karnesen, snapdragon, dan jenis bunga lainnya tetap dipanen para petani namun sepi penjualannya. Sebulan belakangan, para petani bunga ini kehilangan pangsa pasarnya. Bahkan para petani harus menanggung kerugian puluhan bahkan ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Sunarya salah satu petani bunga hias di kabupaten subang juga mengatakan, "Kalau untuk subang, pasar bunga paling besar itu Jakarta, serta hampir memasok ke seluruh wilayah lainnya di Indonesia, tapi sejak adanya COVID-19 benar-benar sangat lesu permintaan bunga hiasnya.

Menurut Sunarya saat musim panen tiba, biasanya pengirim bunga kepada pembeli dilakukan dalam waktu dua hari sekali. Namun sejak adanya COVID-19, permintaan pasokan bunga total tersendat dan kadang berhenti dari sejumlah daerah.

Ia pun cukup kesulitan mengakali kondisi pasar saat ini. Sementara perawatan bunga butuh biaya yang tidak sedikit dan jika dibiarkan bunga-bunga akan mati dengan sendirinya.

"Ya kalau sekarang bunga dibiarkan begitu saja di kebun, daripada untuk perawatan bunga lebih untuk kebutuhan sehari-hari saja, ini pun mengandalkan sisa tabungan yang ada," ujarnya.

"Jarak waktu panen tanaman bunga inikan dua hari sekali, sekali panen untuk petani kecil bisa menghasilkan 30 sampai 40 ikat bunga dengan harga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu, kalau dikalikan sebulan jelas kerugian sangat besar," terangnya.

Dalam setiap bulannya kata Sunarya, Ia selaku petani kecil harus menanggung kerugian nominal rata-rata sebesar Rp 10 juta. Maka untuk petani besar, kata Dede, kerugian bisa dipastikan mencapai ratusan juta rupiah.

Hal senada diungkapkan petani tanaman hias Bandung Barat (Asep 40 Thn) bunga yang biasanya dipesan untuk acara pernikahan, perayaan wisuda dan acara perayaan lainnya, sekarang benar-benar sepi.

"Sekarang pasar bunga benar-benar mati, karena kebutuhan bunga ini biasanya buat acara perayaan-perayaan, sementara sekarang, orang-orang jangankan untuk perayaan, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, ditambah lagi untuk acara yang mengundang kerumunan massa tidak boleh," ungkapnya.

Ia berharap, wabah COVID-19 atau corona bisa segera berakhir agar pasar bunga bisa kembali normal seperti biasanya dan bisa kembali ekspor. "Semoga wabah ini cepat berakhir, karena imbasnya bukan kepada para petani bunga saja tapi juga ke semua lapisan masyarakat," tuturnya. 

Pada kesempatan terpisah, Kapus Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Pertanian Kementan RI,  Dr. A. M Adnan, MP. Menanggapi Terkait Tanaman Hias siap ekspor, Umumnya pelaku Tanaman hias dalam negeri yang akan di ekspor ke mancanegara eksportir atau petani banyak yang tidak memperhatikan persyaratan negara tujuan sehingga ada beberapa pengiriman yang ditolak ,

"Macam macam alasannya, pelaku usaha harus memperhatikan persyaratan negara tujuan. Makanya  Karantina hanya dibantu ekspornya saja. Bayak hal peraturan untuk tanaman hias ada surat ijin pengeluaran bukannya kita mau mempersulit ekspor, aturannya seperti itu karna tidak semua komoditas bisa di ekspor oleh Karantina kementerian pertanian. Bisa diatur mana yang boleh mana yang tidak, surat ijin pengeluaran tiap negara yaitu VC," Kata Adnan.

Kapus KT Badan Karatina Pertanian Kementan Adnan juga menjelaskan, kenyataannya banyak yang tidak lapor lansung berangkat ditangkap di negara tujuan, Harus bebas OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) tertentu. Contohnya kejadian kemaren itu yang ke Jepang, oleh kita sudah diperiksa dan di sertifikasi setelah keluar dari Karantina mereka merubah, identitas dan itegritasnya tidak sama yang dilaporkan di karantina. Ada tanamannya yang diganti ada yang sisipkan otomatis akan kena di negara tujuan.

Pengusaha harus berusaha secara jujur,  Karantian hanya mengawal ekspor,  ada beberapa negara yang mensyaratkan barang itu bebas OPT tertentu dari negara tertentu, pihak Karantina memberikan pembinaan secara teknis tanaman hias darI Ditjen Horti oleh dinas pertanian setempat mereka membina budidayanya, sehingga barang yang dihasilkan bebas dari OPT, Karantina akan mengecek di akhirnya. Harus berkabolorasi sementara ini masih jalan sendiri sendiri.

Iya juga mengatakan, saat ini yang dikembangkan pak Menteri Pertanian adalah kawasan budidaya tanaman, ini akan bagus kalo ada budidaya tanamam hias. Lokasinya sangat baik di kawasan bogor dan dibina dari berbagai instansi dan produsen tanaman hias.

Lebih baik lagi kalau tanaman hias siap ekspor dan pengemasannya sudah memenuhi aturan negara tujuan, itu yang harus dibangun, Eksportir kan banyak pengumpul. Intinya harus mengikuti syarat negara tujuan. Karantina itu tidak mempersulit ekspor tapi harus mengikuti aturan negara tujuan ekspor

Itu yang harus diluruskan kata Adnan ke pelaku usaha dinas juga harus mengawal dan dinas terkait juga. Karantina hanya mengawal saat akan ekspor jangan hanya mengandalkan Karantina yang di border tapi di budidaya juga harus diperhatikan . Membentuk daerah kawasan saat ini adalah ide yang bagus," 

Adnan juga menuturkan, untuk tanaman hias siap ekspor, perlu membangun kawasan produksi tanaman hias dan itu dibina dari berbagai instansu terkait. Saat ini belum ada seperti itu.  Daerah yang cocok kawasan di daerah bogor dan sekitarnya.

Menurut Kapus KT Karantina Adnan, Badan Karantina Pertanian Kementan saat ini sudah ada gerakan percepatan olah tanah GOPT,  Karantina kawasannya di Jawa Barat kegiatannya Karantina berkoordinasi dengan dinas dan petani untuk percepatan tanam,  selama airnya ada harus dipercepat tanam setelah habis panen,"  kata Adnan.  (Bahar)

Bagikan Artikel Ini:
banner 468x60
author
No Response

Leave a reply "DITENGAH PANDEMI CORONA, PETANI BUNGA HIAS DI SUBANG, GARUT DAN BANDUNG OPTIMIS ADA PELUANG EKSPOR"