PELATIHAN PERTANIAN TERUS DIGENJOT UNTUK TINGKATKAN KUALITAS SDM PERTANIAN

banner 160x600
banner 468x60
Jpeg

BPPSDMP Kementan pada acara Bincang Asik Seputar Pertanian Indonesia (BAKPIA) di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara Bogor, Selasa (12/3/2019)(Foto Bahar By Jakarta News)

JAKARTANEWSon- Kementerian Pertanian RI melalui BPPSDMP terus mengenjot Pelatihan pertanian untuk peningkatan kualitas Sumber daya manuasia (SDM) pertanian kedepan. Demikian disampaikan Kepala Pusat Pelatihan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Bustanul Arifin Caya pada acara Bincang Asik Seputar Pertanian Indonesia (BAKPIA) di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara Bogor, Selasa  (12/3/2019).

Ia juga mengatakan, Pelatihan menjadi bagian penting dan tidak terpisahkan dari peningkatan kompetensi SDM Pertanian, meningkatnya produktivitas rakyat khususnya masyarakat tani yang berdaya saing, salah satunya dengan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) Pertanian," kata Bustanul.

Bustanul juga mengungkapkan, Peningakatan produktivitas pertanian pengembangan SDM Pertanian merupakan salah satu nawacita pemerintah untuk menciptakan ketahanan pangan, menuju lumbung pangan dunia 2045. Bustanul mengatakan, penyuluhan pertanian terus berusaha meningkatkan kelembagaan, kualitas dan kuantitas penyuluh baik ditingkat kecamatan sampai desa. "Penyuluh juga harus selalu update dirinya sesuai kebutuhan sekarang ini. Pelatihan juga diberikan kepada penyuluh untuk meningkatkan kapasitasnya. Karena penyuluh tidak hanya mampu menggerakkan, tetapi juga harus mampu membimbing kelompoknya agar mampu meningkatkan produktivitas dan produksi.

Dari segi pendidikan kata Bustanul, BPPSDMP telah membentuk lembaga Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) guna menghasilkan tenaga terampil yang bisa langsung diserap oleh dunia usaha dan induatri bahkan dunia kerja. Dari kegiatan pelatihan, Bustanul menjelaskan selalu meningkatkan kompetensi. Pelatihan juga diberikan kepada widyaiswara untuk selalu mengupdate agar mampu mengajar dnegan baik. "Karena sebagai pengajar, widyaiswara juga senbaai ujung tombak seperti dalam melakukan TOT serta pengembangan usaha tani. Kita juga mengembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang saat ini sudah mencapai 1147 yang diharapkan secara kualitatif juga bagus", tegasnya.

Menurut Bustanul, saat ini pihaknya juga terus melakukan pelatihan pada penyuluh pertanian yang tentu saja harus ditingkatkan tak hanya berupa kuantitas (jumlah), tetapi juga kualitasnya karena Penyuluh paling dekat dengan para petani sehingga harus senantiasa mengupgrade dirinya sesuai dengan kebutuhan dunia pertanian.

Bustanul juga menjelaskan,pihaknya saat ini terus melakukan pelatihan bagi teman-teman di penyuluh pertanian. Karena tugas dari penyuluh tidak hanya menggerakkan SDM Pertanian juga harus mau dan mampu meningkatkan kemampuan organisasi kelompok tani termasuk meningkatnya usaha tani itu sendiri,"jelasnya.

Sedangkan untuk penciptaan enterpreneur muda pertanian kata Bustanul, saat ini pihaknya melakukan melalui Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) sehingga hasil dari lembaga pendidikan (Polbangtan) dihasilkan tenaga terdidik yang terampil di bidangnya masing-masing sehingga diharapkan mereka bisa diserap langsung oleh dunia usaha dunia industri maupun dunia kerja itu sendiri (jobseeker dan job creator).

"Kita selalu meningkatkan tidak hanya di modul pelaksanaan pelatihan tetapi juga mengupgrade widyaiswara sebagai tenaga
pengajar termasuk Trainer on Trainee untuk berbagai kegiatan yang diharapkan dibutuhkan kelompok tani untuk mengembangkan usaha taninya," tutur Bustanul.

Termasuk mengembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang sekarang sudah ada 1147 kelompok. Bagaimana untuk sosialisasikan kepada public, salah satunya Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) dimana P4S serupa dengan Balai Latihan Kerja (BLK).

Lebih jauh Bustanul mengatakan,tahun ini ditargetkan 4000 orang untuk mengikuti sertifikasi profesi di Pusat Pelatihan Pertanian. "Kita identifikasi sertifikasi profesi apa yang dibutuhkan oleh pasar, dunia usaha dan dunia industri. Misalnya untuk alsintan, dibutuhkan sertifikasi profesi untuk teknisi sehingga kompetensi mereka bisa dijual dengan adanya (pengakuan) sertifikasi," tuturnya.

Pada acara yang sama Kepala BBPKH Cinagara, Wisnu Wasesa Putra menambahkan, untuk meningkatkan kompetensi, lembaga sertifikasi profesi (LSP) Pertanian sudah mengcover Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang pertanian. Mulai dari kopi, kakao dan lainnya. "Sedangkan di kami (BPPKH Cinagara) ada Juru Sembelih Halal (Juleha) yang sudah ada SKKNI. Kami melakukan sertifikasi di rumah potong unggas atau rumah potong hewan," kata Wisnu.

Wisnu juga menjelaskan, sertifikasi inseminasi buatan (inseminator) dimana sebagian besar merupakan tenaga muda di daerah yang berstatus non PNS (non aparatur) tetapi terampil. "Adapula (pelatihan) dokter hewan, Pemeriksa kebuntinganbagi program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) sehingga bukan hanya programya saja yang berjalan tetapi juga kompetensi SDMnya meningkat," jelasnya. (Bhr)

Bagikan Artikel Ini:
banner 468x60
author
No Response

Leave a reply "PELATIHAN PERTANIAN TERUS DIGENJOT UNTUK TINGKATKAN KUALITAS SDM PERTANIAN"